Iman Pembantu Pemuas Majikan Montok

Iman Pembantu Pemuas Majikan Montok – Beha Ajaib.

Iman Pembantu Pemuas Majikan Montok
Iman Pembantu Pemuas Majikan Montok

Iman Pembantu Pemuas Majikan Montok – Beha Ajaib.

Cerita Iman Pembantu Pemuas Majikan Montok berawal dari Rumah yang mewah, uang yang berlebihan dan fasilitas hidup yang lebih dari cukup ternyata bukan kunci kebahagiaan untuk seorang wanita. Apalagi untuk seorang wanita yang muda, cantik dan penuh vitalitas hidup seperti Yuli. sudah satu bulan ini ia ditinggal suaminya bertugas ke luar kota. Padahal mereka belum lagi 6 bulan menikah. Pasti semakin mengesalkan juga, untuk Yuli, kalau tugas dinas luar kota diperpanjang di luar rencana.

Seperti malam itu, ketika Gunawan, suami Yuli, menelepon untuk menjelaskan bahwa ia tidak jadi pulang besok karena tugasnya diperpanjang 2-3 minggu lagi. Yuli keras mem-protes, tapi menurut suaminya mau tidak mau ia harus menjalankan tugas. Waktu Yuli coba untuk merayunya, supaya bisa datang untuk ‘week-end’ saja, Gunawan menolak. Katanya repot jauh-jauh datang hanya untuk sekedar ‘ngentot’. Dengan hati panas Yuli bertanya:

“Lho mas, apa kamu nggak punya kebutuhan sebagai laki-laki?” Mungkin karena suasana pembicaraan dari tadi sudah agak tegang seenaknya Gunawan menjawab, …

“Yah namanya laki-laki, di mana aja kan bisa dapet.”

Iman Pembantu Pemuas Majikan Montok – Beha Ajaib.

Dalam keadaan marah, tersinggung, bercampur gemas karena birahi, Yuli membanting gagang telepon. Ia merasa sesuatu yang ‘nakal’ harus ia lakukan sebagai balas dendam kepada pasangan hidup yang sudah demikian melecehkannya. Kembali ia teringat kepada pembicaraannya dengan Yanti beberapa hari yang lalu, kala ia tanyakan bagaimana pembantu wanitanya itu menyalurkan hasrat sex-nya.

Waktu itu ia bercanda mengganggu janda muda yang sedang mencuci piring di dapur itu.

“Yanti, kamu rayu aja si Iman. Kan lumayan dapet daun muda.” Yanti tersenyum malu-malu.

Katanya, “Ah ibu bisa aja … tapi mana dia mau lagi.” Lalu sambil menengok ke kanan ke kiri, seolah-olah takut kalau ada yang mendengar Yanti mengatakan sesuatu yang membuat darah Yuli agak berdesir.

Iman Pembantu Pemuas Majikan Montok – Beha Ajaib.

“Bu, si Iman itu orangnya lumayan lho. Apalagi kalau ngeliat dia telanjang nggak pakai baju.”

Pura-pura kaget Yuli bertanya dengan nada heran, “Kok kamu tau sih?”

Tersipu-sipu Yanti menjelaskan, “Waktu itu malam-malam Yanti pernah ke kamarnya mau pinjem balsem. Diketuk-ketuk kok pintunya nggak dibuka. Pas Yanti buka dia udah nyenyak tidur. Baru Yanti tau kalau tidur itu dia nggak pakai apa-apa.”

Tersenyum Yuli menanyakan lebih lanjut “Jadi kamu liat kontolnya dan segalanya dong?”

Iman Pembantu Pemuas Majikan Montok – Beha Ajaib.

Kata Yanti bersemangat, “Iya bu, aduh duh besarnya. Jadi kangen mantan suami. biar pun kontolnya nggak sebesar itu.”

Setengah kurang percaya Yuli bertanya, “Iman? Si Iman anak kecil itu?”

“Iya bu!” Yanti menegaskan.

“Iya Iman si Pariman itu. Kan nggak ada yang lainnya tho bu.”

Iman Pembantu Pemuas Majikan Montok – Beha Ajaib.

Lalu dengan nada bercanda Yuli bertanya mengganggu, “Terus si Iman kamu tomplok ya?”

Sambil melengos pergi Yanti menjawab, “Ya nggak dong bu, ” kata Yanti sambil buru-buru pergi.

dalam keadaan hati yang panas dan tersinggung jalan pikiran Yuli menjadi lain. Ia yang biasanya tidak terlalu memperdulikan Iman, sekarang sering memperhatikan pemuda itu dengan lebih cermat. Beberapa kali sampai anak muda itu merasa agak rikuh. Dari apa yang dilihatnya, ditambah cerita Yanti beberapa hari yang lalu, Yuli mulai merasa tertarik.

Membayangkan ‘kontol’ Iman, yang kata Yanti “aduh duh” itu membuat Yuli merasa sesuatu yang aneh. Mungkin sebagai kompensasi atau karena gengsi sikapnya menjadi agak dingin dan kaku terhadap Iman. Iman sendiri sampai merasa kurang enak dan bertanya-tanya apa gerangan salahnya.

Iman Pembantu Pemuas Majikan Montok – Beha Ajaib.

Pada suatu hari, setelah sekian minggu tidak menerima ‘nafkah batin’nya, perasaan Yuli menjadi semakin tak tertahankan. Malam yang semakin larut tidak berhasil membuatnya tertidur. Ia merasa membutuhkan sesuatu. Akhirnya Yuli berdiri, diambilnya sebuah majalah bergambar dari dalam lemari dan pergilah ia ke kamar Iman di loteng bagian belakang rumah. Pelan-pelan diketuknya pintu kamar Iman.

Setelah diulangnya berkali-kali baru terdengar ada yang bangun dari tempat tidur dan membuka pintu. Wajah Iman tampak kaget melihat Yuli telah berdiri di depannya. Apalagi ketika wanita berkulit putih yang cantik itu langsung memasuki ruangannya. Agak kebingungan Iman melilitkan selimut tipisnya untuk menutupi tubuh bagian bawahnya. Melihat tubuh Iman yang tidak berbaju itu Yuli menelan air liurnya.

Lalu dengan nada agak ketus ia berkata, “Sana kamu mandi, jangan lupa gosok gigi.”

Iman menatap kebingungan, “Sekarang bu?”

Iman Pembantu Pemuas Majikan Montok – Beha Ajaib.

Dengan nada kesal Yuli menegaskan, ‘Ia sekarang ,,, udah gitu aja nggak usah pake baju segala.”

Tergopoh-gopoh Iman menuju ke kamar mandi, memenuhi permintaan Yuli.

Sementara Iman di kamar mandi Yuli duduk di kursi, sambil melihat-lihat sekitar kamar Iman. Pikirnya dalam hati, “Bersih, rapih juga ini anak.”

Kira-kira 10 atau 15 menit berselang Iman telah selesai.

Iman Pembantu Pemuas Majikan Montok – Beha Ajaib.

“Maaf bu …,” katanya sambil memasuki ruangan.

Ia hanya mengenakan handuk yang melilit di pinggangnya.

“Saya pake baju dulu bu,” katanya sambil melangkah menuju lemari pakaiannya.

Dengan nada ketus Yuli berkata, “Nggak usah. Kamu duduk aja di tempat tidur… Bukan, bukan duduk gitu, berbaring aja.” Lalu sambil melempar majalah yang dibawanya ia menyuruh Iman membacanya.

Sambil melangkah keluar Yuli sempat berkata,

Iman Pembantu Pemuas Majikan Montok – Beha Ajaib.

“Sebentar lagi saya kembali.” dengan kikuk dan kuatir Iman mulai membalik halaman demi halaman majalah porno di tangannya.

Tapi ia tidak berani bertanya kepada Yuli, apa sebenarnya yang wanita itu inginkan.

Setelah saat-saat yang menegangkan itu berlangsung beberapa lama, Iman mulai terangsang juga melihat berbagai adegan ngentot di majalah yang berada di tangannya itu. Ia merasa ‘kontol’nya mengeras. Tiba-tiba pintu kamar terbuka dan Yuli melangkah masuk. Iman berusaha bangkit, tapi sambil duduk di tepi pembaringan Yuli mendorong tubuhnya sampai tergeletak kembali. Tatapan matanya dingin, sama sekali tidak ada senyuman di bibirnya. tapi tetap saja ia terlihat cantik.

“Iman dengar kata-kata saya ya. Kamu saya minta melakukan sesuatu, tapi jangan sampai kamu cerita ke siapa-siapa. Mengerti?”

Iman hanya dapat mengangguk, walaupun ia masih merasa bingung.

Iman Pembantu Pemuas Majikan Montok – Beha Ajaib.

Hampir ia menjerit ketika Yuli menyingkap handuknya terbuka. Apalagi ketika tangannya yang halus itu memegang ‘kontol’nya yang tadi sudah tegang keras.

“Hmm ….. Besar juga ya kontolmu,” demikian Yuli menggumam. Diteruskannya mengocok-ngocok ‘kontol’ Iman, dengan mata terpejam. Pelan-pelan ketegangan Iman mulai sirna, dinikmatinya sensasi pengalamannya ini dengan rasa pasrah.

Tiba-tiba Yuli berdiri dan langsung meloloskan daster yang dikenakannya ke atas. Bagai patung pualam putih tubuhnya terlihat di mata Iman. Walaupun lampu di kamar itu tidak begitu terang, Iman dapat menyaksikan keindahan tubuh Yuli dengan jelas. Tertegun ia memandangi Yuli, sampai beberapa kali meneguk air liurnya. tidak lama kemudian Yuli naik ke tempat tidur, diambilnya posisi mengangkangi Iman. Masih dengan nada ‘judes’ ia berkata…

“Yang akan saya lakukan ini bukan karena kamu, tapi karena saya mau balas dendam. Jadi jangan kamu berpikiran macam-macam ya.” Lalu digenggamnya lagi “kontol” Iman dan diusap-usapkannya ‘bonggol kepala’nya ke bibir ’memek’nya sendiri.

Terus menerus dilakukannya hal ini sampai ‘memek’nya mulai basah. Lalu ditatapnya Iman dengan pandangan yang tajam. Katanya dengan suara ketus, …

Iman Pembantu Pemuas Majikan Montok – Beha Ajaib.

“Jangan kamu berani-berani sentuh tubuh saya.” Setelah itu, …

“Juga jangan sampe kamu keluar di ‘memek’ saya. Awas ya.”

Lalu di-pas-kannya ‘ujung kontol’ Iman di ‘bibir memek’nya dan ditekannya tubuhnya ke bawah.

Pelan-pelan tapi pasti ‘kontol’ Iman menusuk masuk ke ‘memek’ Yuli

‘Aduh … Ah … Man, besar amat sih” demikian Yuli sempat merintih. Setelah ‘kontol’ Iman benar-benar masuk Yuli mulai menggoyang pinggulnya. Suaranya sesekali mendesah keenakan.

Iman Pembantu Pemuas Majikan Montok – Beha Ajaib.

Tidak lama kemudian dicapainya ‘orgasme’nya yang pertama. Hampir seperti orang kesakitan suara Yuli mengerang-erang panjang.

“Aah … Aargh … Aah, aduh enaknya… ” Seperti orang lupa diri Yuli mengungkapkan rasa puasnya dengan polos.

Tapi ketika Yuli sadar bahwa kedua tangan Iman sedang mengusapi pahanya yang putih mulus, ditepisnya dengan kasar.

“Tadi saya bilang apa…!”

Iman ketakutan,… “Maaf bu.”

Lalu perintah Yuli lagi, … “Angkat tangannya ke atas.”

Iman Pembantu Pemuas Majikan Montok – Beha Ajaib.

Iman menurutinya, “Baik bu.”

Begitu melihat bidang dada dan buluketiak Iman Yuli kembali terangsang.

Sekali lagi ia menggoyang pinggulnya dengan bersemangat, sampai ia mencapai ‘orgasme’nya yang kedua. Setelah itu masih sekali lagi dicapainya puncak kenikmatan, walaupun tidak sehebat sebelumnya. Iman sendiri sebetulnya juga beberapa kali hampir keluar, tapi karena tadi sudah di’wanti-wanti,’ maka ditahannya dengan sekuat tenaga. Rupanya Yuli sudah merasa puas, karena dicabutnya ‘kontol’ Iman yang masih keras itu. Dikenakannya kembali dasternya.

Sekarang wajahnya terlihat jauh lebih lembut. Sebelum meninggalkan kamar Iman sempat ia menunjukkan apresiasi-nya.

“Kamu hebat Man …” lalu sambungnya

Iman Pembantu Pemuas Majikan Montok – Beha Ajaib.

“Lusa malam aku kemari lagi ya.”

Setelah itu masih sempat ia berpesan,…. “O iya, kamu terusin aja sekarang sama Yanti … Dia mau kok.”

Iman hanya mengangguk, tanpa mengucapkan apa-apa.

Sampai lama Iman belum dapat tertidur lelap, membayangkan kembali pengalaman yang baru saja berlalu. Kehilangan ke’perjaka’an tidak membuat Iman merasa sedih. Malah ada rasa bangga bahwa seorang wanita cantik dari kalangan gedongan seperti Yuli telah memilih dirinya.

Iman Pembantu Pemuas Majikan Montok – Beha Ajaib.

Sesuai pesannya dua malam kemudian Yuli datang lagi ke kamar Iman. Kali ini pemuda itu sudah betul-betul menyiapkan dirinya. Jadi Yuli tinggal menaiki tubuhnya dan menikmati ‘kontol’nya yang keras itu.

Walaupun suaranya masih ketus meminta Iman untuk sama-sekali tidak menyentuh tubuhnya, kali ini Yuli sampai meremas-remas dada dan pinggul Iman ketika mencapai ‘orgasme’nya. Bahkan tidak lupa wanita cantik itu sempat memuji pemuda yang beruntung itu.

Katanya, … “Man, Pariman, kamu hebat sekali. Selama kawin aku belum pernah sepuas seperti ngentot sekarang ini. Terma kasih ya.” Iman hanya menjawab terbata-bata, …

“Saya … Saya … seneng … Hm … Bisa nyenengin bu Yuli.”

Iman Pembantu Pemuas Majikan Montok – Beha Ajaib.

Sambil membuka pintu kamar Yuli berpesan. “Iya Man, tapi jangan bosen ya.”

Lalu tambahnya lagi, … “Udah, sekarang kamu terusin sama Yanti sana. Aku mau tidur dulu ya.”

Dua malam kemudian kembali Yuli menyambangi kamar Iman. Kebetulan tanpa penjelasan apapun siangnya ia sempat meminta pemuda itu untuk mengganti seprei ranjang dan sarung bantalnya.

“Man … Kamu capek nggak? Yuli bertanya dengan lembut. Rupanya berkali-kali dipuaskan pemuda itu membuatnya sikapnya lebih ramah.

Iman tersenyum, … “Nggak kok bu. Saya siap dan seneng aja melayani ibu.”

Iman Pembantu Pemuas Majikan Montok – Beha Ajaib.

Tanpa malu-malu langsung Yuli melepaskan daster-nya.

Setelah itu dilorotnya kain sarung Iman. dengan takjub ia memandangi kontol lelaki itu. Tanpa sadar sempat ia memuji, “Aduh Man, udah besar amat sih kontolmu.”

Lalu sambil mengocok-ngocoknya Yuli sempat berkata, … “Hmmm Man, keras lagi.”

Lalu sambil membaringkan tubuhnya ia meminta, … “Kamu dari atas ya Man. Aku mau coba di bawah.”

Langsung Iman memposisikan ‘kontol’nya di antara celah paha Yuli.

Iman Pembantu Pemuas Majikan Montok – Beha Ajaib.

Lelaki muda itu betul-betul terangsang melihat kemolekan nyonya muda yang sedang marah kepada suaminya itu. tidak pernah terbayang sebelumnya bahwa ia boleh mengentoti tubuh yang seputih dan semulus ini. Apalagi Yuli sekarang tidak lagi judes dan ketus seperti pada malam-malam sebelumnya, sehingga semakin tampak saja kecantikannya. Sempat terpikir oleh pemuda itu mungkin judes dan ketusnya dulu itu hanya untuk mengatasi rasa malu dan gengsinya saja.

“Man …” Yuli memanggilnya lembut, setengah berbisik.

“Iya bu …”

“Kamu gesek-gesek kontolmu ke memekku dulu ya. Terus masukinnya nanti pelan-pelan.”

Diikutinya permintaan Yuli, digesek-geseknya ‘bibir memek’ Yuli dengan ‘ujung kontolnya.’ Yuli mendesah kegelian, hingga membuat Iman lupa diri. Tangannya mulai mengusap-usap paha dan perut Yuli.

Iman Pembantu Pemuas Majikan Montok – Beha Ajaib.

tapi wanita cantik itu menepis tangannya.

“Jangan sentuh tubuhku, jangan ….” serunya tegas.

Iman segera berhenti, ditariknya tangannya.

Tidak berapa lama kemudian terdengar Yuli meminta. “Man, masukin pelan-pelan Man. tapi ingat … Jangan sampai keluar di dalam ya.”

Pelan-pelan Iman mendorong ‘batang kontol’nya memasuki ‘liang memek’ Yuli.

Iman Pembantu Pemuas Majikan Montok – Beha Ajaib.

Perlahan tapi pasti, sedikit demi sedikit, ‘kontol’nya menerobos masuk.

Yuli terus mendesah keenakan.

“Maaf bu, saya mohon ijin memegang paha ibu, supaya punya ibu lebih kebuka.” Akhirnya Iman memberanikan diri meminta. dengan terpaksa Yuli mengijinkan, …

“Iya deh. tapi bagian bawahnya aja ya.” Begitu diberi ijin Iman langsung melakukannya.

Walaupun tubuhnya tegak, karena kuatir menetesi tubuh Yuli dengan keringatnya, ia dapat menghunjamkan ‘kontol’nya masuk lebih jauh.

Iman Pembantu Pemuas Majikan Montok – Beha Ajaib.

“Ah Man, nikmat sekali.” Yuli berseru keenakan.

Langsung Iman menggoyangkan pinggulnya, ke kanan dan ke kiri, mundur dan maju. Yuli terus mendesah keenakan, semakin lama semakin keras. Pada puncaknya ia menjerit lembut dan mengerang panjang. “Aduh Man, aku udah. Aduh enak sekali. Aaah, Maaan …. Aaah!”

Sementara beristirahat Iman menarik keluar ‘batang kontol’nya dan melapnya dengan handuk. dengan tatapan penuh hasrat Yuli memandangi ‘kemaluan’ Iman yang tetap kaku dan keras. Pada ‘ronde’ berikutnya Iman yang bertindak mengambil inisiatif.

“Maaf bu …” katanya sambil kedua tangannya mendorong paha mulus Yuli hingga terbuka lebar.

Yuli hanya mengangguk lemah, sikapnya pasrah. Rupanya rasa gengsi atau angkuhnya sudah mulai sirna di hadapan pemuda pejantannya. Ditatapnya wajah Iman dengan seksama. Sekarang baru ia sadar bahwa Iman bukan hanya jantan, tapi juga lumayan ganteng.

Begitu berhasil menembus ‘liang memek’ Yuli, yang merah merangsang itu, Iman mulai beraksi. Sekali lagi goyangannya berakhir dengan kepuasan Yuli. … setelah itu sekali lagi …

Iman Pembantu Pemuas Majikan Montok – Beha Ajaib.

Yuli tergolek lemah. Dibiarkannya Iman memandangi tubuhnya yang terbaring tanpa busana. Mungkin karena itulah ‘kontol’ Iman, yang memang belum ber-‘ejakulasi,’ tetap berada dalam keadaan tegang.

“Man … ” suara Yuli terdengar memecah keheningan.

“Kamu kok hebat sekali sih? Udah sering ngentot ya?” Iman menggelengkan kepalanya.

“Belum pernah bu. Baru sekali ini saya melakukan. Sama ibu ini aja.”

Dengan heran Yuli menatapnya, lalu tersenyum karena teringat sesuatu.

Iman Pembantu Pemuas Majikan Montok – Beha Ajaib.

Tanyanya langsung, … “tapi udah dikeluarin sama Yanti kan?”

Jawab Iman, … “Belum kok bu.”

Semakin heran Yuli. “Lho yang kemarin-kemarin itu? Kan udah saya kasih ijin.”

Dengan polos Iman menjawab, … “Iya bu, tapi saya nggak kepengen.”

Yuli penasaran, … “Lho kenapa?”

Iman Pembantu Pemuas Majikan Montok – Beha Ajaib.

Dengan polos Iman menjawab, … “Abis barusan sama ibu yang cantik, masa’ disambung sama mbak Yanti. Rasanya kok eman-eman ya bu.”

“Jadi selama ini kamu tahan aja?”

Jawab Iman, … “Iya bu, menurut saya kok sayang.”

Entah bagaimana Yuli merasa senang mendengar jawaban Iman.

Ada rasa hangat di hatinya.

“Ah sayang aku udah puas. Mana besok mens lagi …”

Iman Pembantu Pemuas Majikan Montok – Beha Ajaib.

Tapi ada rasa kasihan juga yang membersit di hatinya.

Hebat juga pengorbanan Iman, yang lahir dari penghargaan kepadanya itu.

Akhirnya ia mengambil keputusan … “Sini Man, sekarang kamu yang baring di sini.” Kata Yuli sambil bangun dari posisinya semula.

Iman menatapnya dengan pandangan bertanya, tapi diikutinya permintaan majikannya. Yuli segera membersihkan ‘kontol’ Iman dengan handuk. Karena dipegang-pegang ‘kontol’ milik Iman kembali mengeras penuh. Sambil duduk di tepi ranjang Yuli mulai mengelus-elusnya. Sempat ia berdecak kagum menyaksikan kekokohan dan kerasnya.

Dirasakannya ukuran ‘kontol’ Iman yang besar, ketika berada dalam genggaman tangannya. Keenakan Iman, hingga matanya sesekali terpejam. Bibirnya juga mendesis, bahkan sesekali mengerang. Tangan kanannya di tempatkannya di bawah kepalanya.

Iman Pembantu Pemuas Majikan Montok – Beha Ajaib.

Tangan kirinya mengusap-usap lengan Yuli yang sedang mengocok-ngocok ‘kontol’nya. Kali ini Yuli membiarkan apa yang pemuda itu ingin lakukan. Setelah beberapa saat berlalu Iman mulai mendekati puncak pengalamannya.

“Bu, saya hampir bu” Lalu lanjutnya lagi,

“Awas bu, awas kena, saya udah hampir.”

Yuli hanya tersenyum. Katanya, “Lepas aja Man, nggak apa-apa kok.”

Setelah berusaha menahan, demi memperpanjang kenikmatan yang dirasanya, akhirnya Iman terpaksa menyerah.

Iman Pembantu Pemuas Majikan Montok – Beha Ajaib.

“Aduh bu aduuuh aaah …” Cairan kental ‘muncrat’ terlontar berkali-kali dari ‘kontol’nya, yang terus dikocok-kocok Yuli.

Tanpa sadar kedua tangan Iman mencengkeram lengan Yuli dan menariknya. Tubuh wanita itu tertarik ke atas tubuh Iman. Akibatnya cairan kental Iman juga tersembur ke dada dan perutnya. tapi Yuli membiarkannya saja, seakan-akan menyukainya. Setelah ‘air mani’nya terkuras habis baru Iman sadar atas perbuatannya.

“Maaf bu, saya tidak sengaja …” Matanya terlihat kuatir.

Yuli hanya tersenyum, “Nggak apa-apa kok Man.”

Lalu sambungnya, …

“Aduh Man, kentelnya peju dari kontolmu. Banyak amat sih muatannya. .” Iman bernafas lega, apalagi ketika dilihatnya Yuli melap badannya sendiri, lalu setelah itu badan dan ‘kontol’ miliknya dengan handuk.

Iman Pembantu Pemuas Majikan Montok – Beha Ajaib.

Sambil bangkit berdiri Yuli mengenakan dasternya. Lalu ia berdiri di depan Iman yang masih duduk di tepi pembaringan.

“Menurut kamu aku cantik nggak Man?” Tanyanya kepada pemuda itu.

“Cantik dong bu, cantik sekali.”

Sambil mengelus pipi Iman ia bertanya lagi, … “Kamu bisa nggak sementara nahan dulu?”

Iman terlihat kecewa, “Berapa hari bu?”

Tersenyum manis Yuli menjwab, “Yah, sekitar 5-6 hari deh.”

Iman Pembantu Pemuas Majikan Montok – Beha Ajaib.

Iman mengangguk tanda mengerti dan menatapnya dengan pandangan sayang. Yuli membungkuk dan meremas ‘batang kontol’ Iman yang masih lumayan keras.

“Kontolmu yang besar ini simpan baik-baik ya buat aku.” Lalu dengan gayanya yang manis ‘kemayu’ ia membuka pintu dan melangkah keluar.

Sementara berlangsungnya masa penantian cukup banyak perubahan yang terjadi. Iman sekarang nampak lebih baik penampilannya daripada waktu-waktu sebelumnya. Rambutnya ia cukur rapi dan pakaian yang dikenakannya selalu bersih. Ia sendiri tampak semakin PD atau percaya diri, kalau pun sikapnya kepada Yuli tetap sopan dan santun. Apalagi ia yang dulu-dulu tidak pernah dipandang sebelah mata, oleh nyonyanya, sekarang sering diajak mengobrol atau menonton TV.

Semua ini tentu saja menimbulkan tanda-tanya, terutama dari orang-orang seperti Yanti. Apalagi Yuli sering tanpa sadar membicarakan tentang Iman, dengan nada yang memuji. Di waktu malam Yuli kadang-kadang terlihat melamun sendiri. Tapi rupanya bukan memikirkan tentang suaminya yang lama bertugas ke luar Jawa. Ia malah sedang merindukan orang yang dekat-dekat saja.

Setelah selesai masa menstruasi-nya Yuli masih menunggu dua hari lagi, setelah itu baru ia merasa siap. Sore itu ketika berpapasan dengan Iman ia memanggilnya.

“Shst sini Man.”

Iman Pembantu Pemuas Majikan Montok – Beha Ajaib.

Iman menghampirinya, … “Ada apa bu?”

Dengan berseri-seri Yuli menjelaskan, … “Nanti malam ya.”

Iman merasa senang. “Udah bu? Kalau begitu saya tunggu di kamar saya ya bu. Nanti saya beresin.”

Tapi kata Yuli, … “Ah jangan, kamu aja yang ke kamarku. Jam 11-an ya?”

Sambil melangkah pergi dengan tersenyum Iman mengiyakan.

Yuli benar-benar ingin tampil cantik. Dibasuhnya tubuhnya dengan sabun wangi merk ‘channel.’ tidak lupa dikeramasnya juga rambutnya yang hitam, panjang dan lebat itu. Lalu dikenakannya gaun malam yang paling ‘sexy,’ yang terbuka punggung dan lengannya. Sengaja tidak dipakainya ‘bra.’ Setelah itu masih dibubuhinya tubuhnya dengan ‘perfume’ dan sedikit kosmetik. Begitu juga dengan Iman. Setelah mandi dan keramas dipakainya ‘deodorant’ dan ‘cologne’ pemberian Yuli. Jam sebelas kurang sudah diketuknya pintu ruang tidur utama, yaitu kamar Yuli.

Iman Pembantu Pemuas Majikan Montok – Beha Ajaib.

Yuli membuka pintu dan menggandeng tangan Iman. Pemuda itu tertegun menyaksikan kecantikan wanita yang berkulit putih itu. Yuli mengajak Iman duduk di tepi ranjang. Ditatapnya mata pemuda itu yang balik menatapnya dengan rasa kagum. Yuli tersenyum.

“Malam ini kamu hanya boleh manggil aku Yuli atau sayang. Mau kan?”

Iman mengangguk sambil menelan ludah.

Kata Yuli lagi, … “Malam ini ini kamu boleh memegang saya dan melakukan apa aja yang kamu mau.”

Agak gugup Iman menjawab, … “Eng … Terima kasih … Eng … Sayang. Kamu kok baik sekali. Kenapa? Saya ini orang yang nggak punya apa-apa dan nggak bisa ngasih apa-apa.”

Yuli merangkulkan tangannya ke leher Iman dan menidurkan kepalanya di bahu iman. “Kamu salah Man. Kamu itu laki-laki yang bisa memberi saya kepuasan yang total. Sejak kawin saya belum pernah dientot seperti yang saya dapat dari kamu.”

Iman Pembantu Pemuas Majikan Montok – Beha Ajaib.

Lalu sambil tersenyum Yuli meminta, … “Sini yang, cium aku.”

Iman mendekatkan bibirnya ke bibir Yuli, lalu menciumnya.

Tapi karena kurang berpengalaman akhirnya Yuli yang lebih agresif, baru kemudian Iman mengikuti secara lebih aktif. Kedua bibir itu akhirnya saling berpagutan dengan penuh semangat.

Dengan penuh gairah Yuli melepas baju Iman. Sebaliknya Iman agak malu-malu pada awalnya, tapi akhirnya menjadi semakin berani. Dilepasnya gaun malam Yuli, sambil diciuminya lehernya yang ramping, panjang dan molek itu. Dengan gemas tangannya meremas buah dada Yuli yang ranum. Karena Yuli membiarkan saja akhirnya ia berani menciumi, lalu mengulum puting buah dada yang indah itu. Yuli kegelian. Tangannya mengusap-usap tonjolan di celana Iman.

Kemudian dibukanya ‘resleting’ celananya. Tangannya menguak celana dalam Iman dan masuk untuk menggenggam ‘batang kontol’nya yang telah mengeras. Tangan Iman juga langsung melepas celana dalam Yuli, kemudian langsung ditaruhnya tangannya di celah paha Yuli.

Wanita cantik itu mengerang nikmat, rupanya sebelum dengan Iman rasanya cukup lama juga ‘memek’nya itu tidak disentuh tangan lelaki. Kemudian Yuli berlutut di depan Iman, hingga membuat pemuda itu merasa jengah. Ditariknya celana panjang Iman, sampai lepas. Lalu dimintanya Iman berbaring di tempat tidur.

Iman sempat merasa agak kikuk, tapi gairah Yuli segera membuatnya merasa nyaman. Dipeluknya wanita itu dikecup-kecupnya lengan, dada, perut, bahkan pahanya. Karena kegelian Yuli mendorong dada Iman hingga sampai terbaring. Sekarang gantian ia yang menciumi tubuh pemuda itu. dengan mantap dilorotnya celana dalam Iman hingga terlepas. Cepat digenggamnya ‘batang kontol’ Iman yang sudah tegang keras berdenyut-denyut.

Iman Pembantu Pemuas Majikan Montok – Beha Ajaib.

“Man, Iman, besarnya kontolmu. Keras lagi …” Iman tersenyum, …

“Abis kamu cantik sih yang.”

Sambil mengocok-ngocok ‘kontol’ Iman dengan manja Yuli berkata, … “Rasanya aku gemes deh Man.”

Iman tersenyum nakal, entah apa yang ada dipikirannya.

Ia hanya menanggapi singkat, …

“Kalau gemes gimana dong yang?” Yuli tersenyum manis.

Iman Pembantu Pemuas Majikan Montok – Beha Ajaib.

Tiba-tiba diciuminya ‘kontol’ Iman, hingga membuat pemuda itu terkejut. dengan tatapan heran, tapi senang, dilihatnya Yuli kemudian menjilati ‘kontol’nya.
Mulai dari ‘bonggol kepala,’ terus sepanjang ‘batang’nya, bahkan sampai ke ‘kantung buah zakar’nya. Ketika Yuli mengulum ‘kontol’nya di mulutnya Iman mengerang keenakan.

“Aduh sayang, aduh enak sekali … Ah enaknya.”

Akhirnya Iman tidak tahan lagi. Ditariknya Yuli dengan lembut lalu dibaringkannya terlentang. Didorongnya kedua paha Yuli hingga terbuka lebar. Masih sempat diciumi dan dijilatinya tubuh Yuli bagian atas, termasuk mengemut puting buah dadanya seperti bayi yang lapar. Lalu pelan-pelan didorongnya ‘kontolnya masuk, menguak bibir ‘memek’ Yuli yang ranum, menyusuri liang memeknya.

“Pelan-pelan Man, … Kontolmu terasa besar amat malam ini, … Aah …” Yuli mengerang keenakan.

Akhirnya dengan sentakan terakhir Iman menghunjamkan ‘batang kontol’nya yang besar itu masuk. Begitu ia menggoyang pinggulnya Yuli langsung mendesah. Rasanya nikmat sekali digagahi pemuda yang penuh vitalitas dan energi ini. Iman terus menggerakkan ‘kontol’nya maju mundur, hingga membuat Yuli mendesah dengan tanpa henti. Akibat gaya Iman yang agresif ini Yuli tidak mampu menahan dirinya lebih dari 10 menit. Ia merasa seperti dilambungkan tinggi, sewaktu dicapainya puncak ‘orgasme’nya yang pertama.

“Aduh Man, aduh, aku sayang kamu …. Aaah” Erangan panjang keluar dari bibir Yuli.

Iman Pembantu Pemuas Majikan Montok – Beha Ajaib.

Tapi Iman ternyata masih kuat. Diteruskannya gerakan maju-mundur dengan pinggulnya. Akibatnya sensasi nikmat Yuli, yang tadi hampir mereda, mulai meningkat lagi. Lima belas menit atau dua puluh menit berlalu sampai terdengar lagi jeritan Yuli.

“Man … Pariman … yang … Aku lagi … yang … Aaah … Aaah” Sekali ini pun Iman merasa sudah hampir tiba di ujung daya tahannya.

“Yuli … Sayang, saya hampir …. Boleh?” dengan nafas tersengal-sengal Yuli memintanya, …

“Iya Man, lepas sekarang Man …” Segera Iman mendorong dengan hentakan-hentakan keras.

“Yuli … Sayang … Aaah” Begitu Iman menyemburkan ‘sperma’nya ke dalam ‘memek’ Yuli, ujung kepala kontolnya berdenyut-denyut.

Akibatnya Yuli kembali merasa kegelian yang nikmat.

“Man aduh Man aduh …”

Iman Pembantu Pemuas Majikan MontokBeha Ajaib.

Yuli terkulai lemah.

“Peluk aku dong Yank …” Disusupkannya kepalanya di ketiak Iman.

Tangannya mengusap-usap dadanya yang berkeringat.

“Kamu puas Man …?” Tanya Yuli kepada Iman.

Agen PokerAgen Domino99Agen Capsa SusunAgen AduQAgen BandarQAgen Bandar PokerAgen Sakong

“Puas Sayang, puas sekali” dalam keheningan malam mereka berdua terbaring saling berpelukan, sampai Iman merasa tenaganya pulih.

 

Judi PokerJudi Domino99Judi Capsa SusunAgen AduQJudi BandarQJudi Bandar PokerJudi Sakong

 

Sekali lagi ia minta dilayani. Walaupun Yuli sudah merasa cukup, dipenuhinya kemauan pejantan mudanya itu. Dengan kagum dirasakannya bagaimana sekali lagi ia dipuaskan oleh birahi Iman. Akhirnya baru menjelang subuh Iman beranjak pergi untuk kembali ke kamarnya.

Keris99 Agen Judi Bandar66 Sakong BandarPoker BandarQ AduQ CapsaSusun Domino99 Poker Terpercaya Indonesia
Keris99 Agen Judi Bandar66 Sakong BandarPoker BandarQ AduQ CapsaSusun Domino99 Poker Terpercaya Indonesia 

Beha Ajaib

Cerita Dewasa | Cerita Panas | Cerita Mesum | Cerita Bokep